RSS

Selasa, 30 Desember 2008

Ungkapan Cinta Dalam Keluarga

KotaSantri.com : Jika kita amati di kehidupan sehari-hari, masih banyak keluarga Islam yang alergi dengan kata “cinta” dalam ungkapan sehari-hari. Mereka khawatir karena cinta sering dijadikan ungkapan yang sifatnya syahwati. Bagi sebagian muslim, ungkapan cinta memang terkesan murahan dan kurang pantas dijadikan ungkapan sehari-hari di tengah keluarga muslim.

Padahal, sunnah Rasulullah menunjukkan bahwa dalam pergaulan dengan sesama muslim saja, ungkapan cinta merupakan suatu sunnah, apalagi dalam rumahtangga. Bukan gombal apabila seoarang suami mengucapkan dengan terus terang, “Dik, aku mencintaimu karena Allah.” Lantas istrinya menjawab, “Aku juga cinta kepadamu, mas!”

Anehnya, ungkapan begitu malah sering diucapkan oleh mereka yang non muslim, baik yang sudah suami istri atau belum. Landasan mereka bukan karena Allah dan semata syahwat belaka. Itulah yang gombal dan tak ada nilainya.

Ucapan yang bergairah dan menambah semangat cinta dalam rumah tangga Islam, jelas sangat dianjurkan. Ungkapannya bahkan lebih berpahala daripada ungkapan cinta sesama muslim. Bukankah ini salah satu target dari pernikahan dalam Islam?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

Rumah tangga Islam dibangun dengan pondasi iman. Sedang iman tak lepas dari cinta. Suami yang mencintai istri karena Allah. Demikian sebaliknya, istri mencintai suami juga karena Allah pula, suami istri diwajibkan saling melayani, dan itu harus dilakukannya dengan ikhlas berlandaskan cinta kepada Allah, bukan semata syahwat. Karena itu, cinta dalam ikatan rumah tangga yang benar-benar dibangun berdasarkan iman dan Islam, lebih kuat daripada cinta antara sesama manusia yang lain.

Hubungan cinta dengan anak-anak atau sanak saudara pun juga tidak kalah pentingnya. Kita jarang bilang kepada anak kita, “Ayah mencintaimu.” Padahal ungkapan cinta merupakan kebahagiaan dari cinta itu sendiri. Ungkapan cinta yang membekas di hati akan mempengaruhi jiwa. “Ayah berkata bahwa dia mencintaiku, karena itu aku akan mencintainya dan akan mentaatinya.” Inilah kenangan manis di hati anak manakala dia berada jauh dari kita.

Terhadap ibu, ayah, adik, atau kakak misalnya, mengapa harus malu mengungkapkan perasaan kita. Kasih sayang yang terbuka dan terus terang memang mempunyai nilai tambah yang memberi kesan tersendiri. Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita ungkapkan perasaan cinta kita kepada keluarga kita karena Allah. Dan semoga, Allah juga akan mencintai seluruh anggota keluarga kita. Aamiin.

0 komentar:

Poskan Komentar